Nagrak: Sebuah Kampung Idaman


Sanak Kolega Kampung Nagrak
Let me go home.. I’m just too far.. from where you are.. I wanna come home.”

Bait lagu dengan judul ‘Home’ dari Michael Bubble ini membuat saya rindu akan kampung halaman yang asri dan damai. Tercatat, sejak saya lulus SMP tahun 2010 sampai sekarang, saya hidup di daerah rantauan antah berantah. Meskipun dimasa liburan saya sering pulang, namun, berdiam lama di lingkungan orang lain itu sangat berbeda dengan kampung halaman. Dari segi budaya, sungguh amat jauh berbeda. Makanya seringkali merindukan baunya tanah kampung halaman.

Oiya ada yang lupa, Sebelum melanjutkan, saya mau jujur dulu bahwa tulisan ini adalah aksi lebay-lebayan* sekaligus untuk memperkenalkan kampung Nagrak ke seluruh pelosok tanah air, yakali aja bisa jadi kampung wisata. Aamiin. Selain itu, Ini adalah bukti bahwa saya sangat rindu akan kampung halaman. *Don’t try this at home

Bagi saya, kampung halaman (Nagrak) adalah tempat yang sempurna untuk masa kecil. Sebab, disanalah jati diri saya dibentuk, akhlak dibina, dan yang paling terpenting adalah pendidikan tentang moral dengan basis Agama ditekankan sejak kecil. Seperti sekolah Agama dan pengajian di rumah-rumah. Inilah esensinya sebuah kampung yang religious sebagaimana yang diinginkan oleh al Ghazali. Karena itulah, serasa saya ingin terus disana dan berdiam di kampung halaman.

Namun, skema kehidupan yang telah diatur oleh-Nya mengharuskan manusia pergi dari suatu tempat ke tempat lainnya untuk menyambung hidup, menimba ilmu dan memanjangkan silaturahim. Jika meminjam istilah Charles Darwin, manusia sedang menghadapai natural selection atau seleksi alam. Maka bagi saya, beruntunglah untuk orang-orang yang merantau jauh meninggalkan rumahnya dan amat rugilah bagi orang yang hanya berdiam diri di kampung halamannya. Sebab, orang yang berdiam diri di kampung halamannya, akan sulit untuk menghadapi seleksi alam di kemudian hari.

Selain itu, Imam Syafi’I pernah menulis sebuah syair yang isinya tentang keharusan seseorang untuk berhijrah sebagaimana Nabi Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Hijarah dari suatu tempat ke tempat lainnya untuk mendapatkan pelajaran baru. Pesan dari Imam Syafii ini juga bisa menjadi semacam motivasi bagi siapa saja yang meninggalkan kampung halamannya. Nasihat dari beliau itu adalah agar seseorang merantau, meninggalkan zona nyamannya menuju wilayah baru, suasana baru, pengalaman baru, dan berkenalan dengan orang-orang baru pula. Nasihat tersebut disusun dalam bait syair ini:
“Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).. Merantaulah… Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang..” (Sumber: Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39)

Pesan yang tertuang dari Syair Imam Syafii ini memberi isyarat yang istimewa bagi orang yang merenungkannya. Isyarat dari Imam Syafii ini adalah bahwa manusia yang berilmu dan beradab tidak mungkin diam dan tinggal di kampung halamannya. Orang yang berilmu adalah orang yang ingin mencari nafkah, berani meninggalkan zona nyamannya. Orang berilmu akan senantiasa merantau jauh untuk mendapatkan ilmu baru. Karena, experience is the best teacher. Gitu.

Meskipun merantau jauh meninggalkan kampung halaman adalah suatu kewajiban khususnya bagi laki-laki, suatu saat akan ada pikiran yang terbesit dalam hati untuk pulang. Seperti kata pepatah yang mungkin sudah popular di kalangan masyarakat menyatakan “Sejauh Elang terbang, ia akan kembali ke sarangnya.” Seperti itulah orang yang sedang merantau jauh dari rumahnya. Sejauh apa pun tempat rantauannya, pasti ia ingin kembali pulang ke kampung halamannya tempat ia dilahirkan, dididik dan dibesarkan.

Sebab, dalam ilmu pendidikan Islam, Keluarga menjadi al madrasatul uulaa atau sekolah yang pertama, sedangkan kampung halaman menjadi al madrasatuts tsaani atau sekolah yang kedua. So, ini menjadi sebuah konsekuensi logis bahwa orang yang merantau, akan ingin untuk kembali pulang. Walaupun kepulangannya itu hanya sekedar bercengkrama dengan orang tua atau saling menyapa dengan teman lama. Akhirnya.. Oh sungguh indahnya jika waktu pulang itu tiba. Serasa berlelah-lelah kemudian mendapatkan upah yang berlimpah.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang bagaimana sejarah terbentuknya kampung Nagrak ? siapa orang pertama yang menetap di Nagrak ? siapa tokoh di Nagrak ? sejak kapan Nagrak menjadi kampung yang asri ? dan seterusnya. Karena saya merasa tidak mempunyai data yang real. Disamping itu, belum pernah ada orang yang melakukan penelitian tentang asal usul Nagrak. Jadi, yang ditekankan dalam tulisan ini adalah Bagaimana Nagrak bisa menjadi kampung yang makmur ? dan apa kekurangan dari Nagrak ?

Saya adalah orang yang beruntung dilahirkan di kampung Nagrak. Kampung yang bisa dikatakan sebagai kampung yang unik tapi antik. Sebab, bagaimana tidak ? Nagrak adalah sebuah kampung yang terletak di pinggiran Desa Cibiuk Kidul, kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut. Disana cukup jauh dengan jalan raya karena letaknya di pinggiran kantor desa. Selain itu di Nagrak, tidak ada pasar, tidak ada Toserba, tidak ada Alfamart, Indomart bahkan pangkalan ojek, alat photo copy, rental play station (PS) dan warnet pun takan ditemukan di kampung Nagrak. Di kampung Nagrak, takan menemui angkot, bajaj, bis ataupun delman.

Akan tetapi, jika dilihat dari segi indeks tingkat “Bahagia” warga kampung Nagrak bisa dikatakan bagus bahkan jauh melebihi kampung-kampung yang ada di Bandung atau di Ibu kota sana. Sebab, dengan ekonomi warganya yang selalu stabil, pendapatan perkapitanya diatas rata-rata (Standar untuk orang Indonesia), tingkat bunuh diri yang rendah, penyakit yang mematikan belum pernah ada, dan kondisi alam yang begitu bersahabat membuat kampung Nagrak ini layak dijuluki sebagai kampung yang unik tapi antik.

Tingkat pertumbuhan penduduk di kampung Nagrak memang lebih pesat dibandingkan dengan tingkat kematiannya. Sehingga kalo tidak salah, jumlah penduduk di kampung itu bertambah dua sampai tiga orang setiap tahunnya. Dengan tingkat kematian yang rendah, membuktikan bahwa tingkat keselamatan hidup di Nagrak cukup tinggi. Pasalnya, orang yang meninggal di kampung Nagrak didominasi oleh usia lanjut yang memang sudah waktunya.

Selain itu, persentase kematian di usia 5 sampai dengan 35 tahunan relative sangat kecil bahkan jarang terjadi. Saya memperkirakan, katakanlah kemungkinan kematian di usia 5 sampai dengan 35 tahunan itu terjadi hanya 4 tahun sekali. Hal ini membuka mata kita bahwa remaja di kampung Nagrak tidak memiliki masalah psikologis yang kerap kali merenggut nyawa para remaja atau pemuda. Kasus-kasus yang menyangkut psikologis biasanya karena kekurangan perhatian dari sekelilingnya. Seperti keluarga, kerabat, kolega dan sahabat.

Makanya dengan masalah psikologis itu, tidak sedikit remaja yang galau terus bunuh diri karena stress, tidak jarang banyak remaja yang meninggal akibat overdosis meminum minuman oplosan, masih sering remaja wanita yang aborsi akibat bercinta dengan pacarnya, tidak kurang banyak remaja yang meninggal akibat terkena virus HIV/AIDS dan masih banyak para remaja yang harus mengakhiri hidupnya karena bermasalah dengan narkoba. Kasus-kasus pasikologi itu alhamdulilah tidak pernah ditemui di kampung Nagrak. Semoga tidak akan pernah ditemui kasus yang seperti itu.

Solusi menangani masalah psikologis di kampung Nagrak sangat mudah. Sebab, di kampung ini begitu banyak gugusan pemandangan yang indah. Rumputnya bagaikan permadani klasik di era awal Renaissance Eropa. Tanahnya begitu harum walaupun tidak sesuci Tanah Haram di Mekkah. Gunung yang dipenuhi dengan berbagai macam pohon berdiri tegak menghormat kampung yang indah ini. Karena itulah, dengan segala keistimewaan ini, sangat mudahlah bagi remaja kampung Nagrak menghilangkan stressnya. Mereka bisa bermain layangan di sore hari, dan mengaji di malam hari. “Nikmat mana yang engkau dustakan ?”(Qs. Ar-Rahman: 18)
Menunggu Senja di Kampung Nagrak
Seorang Pemuda Nagrak yang sedang Galau, Batek.
Hal yang unik dari pemuda kampung Nagrak lainnya adalah mereka begitu kompak kolegial. Bagaimana tidak ? sekurang-kurangnya satu tahun sekali mereka mengadakan rapat akbar, tepatnya pada hari Idul Fitri saat semua pemuda berkumpul. Setelah itu membuat peta perencaan touring ke tempat yang sekiranya murah dan meriah. Seperti yang pernah saya ikuti, tahun 2013 mereka touring ke Talaga Bodas. Agenda tahunan ini sudah menjadi budaya yang harus dipertahankan untuk menjaga kekompakan seluruh pemuda Nagrak. 
Suasana rapat Pemuda kampung Nagrak
Selain itu, setiap satu bulan sekali, bagi yang tidak sibuk dengan pekerjaannya, diwajibkan untuk hadir. Mereka menyebutnya sebagai “Pengajian Pemuda.” Dalam pengajian pemuda ini, setiap permasalahan yang ada di kampung Nagrak dibahas, dikupas dan dicarikan solusinya. Adapun sesekali seorang Ustadz memberikan siraman rohani kepada mereka. Inilah yang membuat pemuda kampung Nagrak masih memegang teguh moral dan etika Agama mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Keren!
Suasana Pengajian Pemuda

Para Pemuda Kampung Nagrak Mendengarkan Siraman Rohani

Pemuda kampung Nagrak selalu menjadi garda paling depan dalam merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia. Mereka bahu membahu mengeluarkan waktu, pikiran, materi dan tenaga hanya untuk kesuksesan pesta rakyat tahunan itu. Karena mereka berpikir, hanya inilah hiburan yang bisa diberikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat pun senang, pemuda pun ikut senang. Walaupun sederhana namun memiliki makna kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat tinggi dibandingkan nobar sinetron Ganteng Ganteng Serigala.  

Lihat video ini, betapa bahagianya warga kampung Nagrak ketika HUT Kemerdekaan Indonesia. Inilah karya Pemuda untuk warga. Lihat:



Di atas telah disinggung bahwa meskipun setiap tahunnya bertambah penduduk dua sampai tiga orang, namun ini tidak membuat rusaknya kestabilan perekonomian disana.  Sebab, dengan mata pencaharian yang hampir sama, yang didomanasi oleh wiraswasta dan petani, Nagrak mampu menggerakan sistem perekonomiannya dengan cara udunan, ngutang, saling berbagi dan ngeclok (meminjam uang). Alhasil, dapur mereka masih mengeluarkan asap dan mereka masih bisa menyantap makanan setiap saat. Tidak pernah ada orang yang mati kelaparan di kampung Nagrak.

Jika dilihat dari pendapatan perkapitanya, warga kampung Nagrak bisa dikatakan berhasil melebihi pendapatan perkapita yang menjadi standar nasional. Pendapatan perkapita warga Indonesia rata-rata mencapai US$ 4.700. Saya berasumsi pendapatan perkapita penduduk kampung Nagrak melebihi dari nilai itu, yaitu sekitar US$ 6.300. Jumlah itu belum termasuk pemanfaatan sumber daya alamnya. Seperti: Penjualan kayu, ikan, kelapa, padi, bahkan batu giok dan jangkrik. Jika sumber daya alam itu dimanfaatkan, kemungkinan pendapatan perkapitanya bisa mencapai US$ 8.000! Waw.

Dengan demikiran, kita dapat mengkategorikan bahwa warga kampung Nagrak memiliki pendapatan yang berkecukupan untuk menghidupi keluarganya. Bukti lainnya adalah warga kampung Nagrak tidak ada yang pernah mencuri di kampung sendiri (mungkin. Semoga) maupun kampung orang lain karena terdesak tidak punya uang. Selain itu, warga kampung Nagrak tidak pernah tertangkap tangan oleh polisi karena mencuri lalu dijebloskan ke penjara. Tidak pernah ada. Ini menyisyaratkan bahwa warga kampung Nagrak memang serba berkecukupan.

Orang menyebut warga kampung Nagrak mungkin tidak terlalu kaya juga tidak terlalu miskin. Atau bahasa komunisnya “Sama rata, sama rasa.” Aspek inilah yang membuat saya kagum dengan kampung Nagrak. Karena secara tidak langsung, kampung ini telah mewujudkan cita-cita Karl Marx dalam bukunya ‘Manifesto Komunis.Makanya tidak salah jika ada orang yang bilang Nagrak adalah kampung madani. Tapi kalo menurut saya kampung ini layak disebut sebagai kampung rahmatan lil’alamiin. Kampung rahmat bagi semesta alam.

Bukan hanya itu, Nagrak adalah kampung dengan lingkungan yang amat asri. Pohon yang masih banyak, membuat kampung ini tetap menjaga kehijauannya disaat illegal loging di Kalimantan sedang gila-gilanya. Rumput liarnya pun untuk para peternak sapi, kerbau dan kambing masih melimpah sehingga tinggal ada kemauan untuk memotongnya. Bahkan, kolam ikannya pun tergolong banyak sehingga anak-anak yang lahir di kampung Nagrak tidak terkena penyakit busung lapar akibat kekurangan protein.
Ikan di Kampung Nagrak cukup banyak

Suasana yang serba hijau, makanan yang serba alami, membuat kampung ini jarang sekali mendapati orang yang terkena penyakit kanker, penyakit demam berdarah, penyakit katarak, penyakit stomatitis, penyakit ebola, penyakit kista, penyakit kaki gajah, penyakit hernia dan segala penyakit yang ‘mahal’. Di berbagai daerah maupun kampung, ada yang terkena penyakit kaki gajah secara missal. Begitu pula dengan kista dan demam berdarah. Alhamdulilah di Nagrak tidak seperti itu.

Namun, memang tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada penyakit yang sering menghantui warga Nagrak, akan tetapi tidak separah dengan penyakit-penyakit yang keren itu. Sehingga warga kampung Nagrak saya kira tergolong masyarakat yang memperhatikan kesehatan. Padahal, di kampung Nagrak, jangankan rumah sakit, Puskesmas pun tidak ada yang beroperasi disana, bahkan tidak ada dokter yang membuka prakteknya dan juga tidak ada bidan yang membuka lapaknya di kampung unik nan antik ini.

Bagi saya itu tidaklah aneh. Sebab, Nagrak dengan segala kekurangan disertai kelebihannya telah mengetahui mana makanan yang baik untuk mulut tapi tidak baik untuk badan dan mana makanan yang tidak baik untuk mulut tapi sebaliknya baik untuk badan. Sehingga, kebiasaan warga Nagrak adalah memakan lalab. No lalab, no party. Begitu kira-kira gambarannya. Mereka terbiasa makan terong yang masih segar dengan sambal, memakan kol yang masih tegar dengan nasi panas. Inilah salah satu aspek dari budaya mencegah penyakit orang-orang yang ada di kampung Nagrak.

Selain pola makan, olah raga juga menjadi bagian terpenting dalam menjaga kesehatan. Maka, warga kampung Nagrak terutama kaum Adam terbiasa bermain bola. Ini sudah menjadi semacan adat istiadat warga kampung Nagrak sejak dulu yaitu: Marag. Marag adalah mengajak bertanding bola dengan kampung lain di suatu tempat. Pada dasarnya mereka bertanding dan mecari lawan disaat semua pemuda Nagrak berkumpul. Agenda bermain bola ini sangat rutin sekitar 2 minggu sekali kalo tidak salah. Hal yang unik adalah warga kampung Nagrak yang terbiasa bermain bola ini, mereka membentuk semacam klub yang diketuai oleh Mang Yusuf.


Klub yang ada di kampung Nagrak itu dinamai Japar Putu disingkat jadi JP. Saya tidak tau perihal sejarah terbentuknya JP, siapa pemain legenda JP, kenapa JP harus didirikan. Namun bagi saya hal yang terpenting dari berdirinya JP adalah memberikan harapan kepada anak-anak untuk mengembangkan minat dan bakatnya dalam sepak bola. Makanya tidak heran jika ketika Marag, anak dibawah U-13 tahun pun dibawa dan diikutkan bertanding.
JP Junior Kampung Nagrak
Keistimewaan lainnya dari kampung Nagrak adalah letak geografisnya. Sepanjang saya bernapas di bawah langit kampung itu, saya belum pernah mengalami gejala alam seperti gempa bumi dengan kekuatan 3 skala richter keatas, gunung meletus, longsor, kebakaran, banjir, tsunami, hujan darah dan segala macam gejala yang merusak tatanan alam. Nagrak memang bersahabat dengan alam, sehingga alam tidak marah kepadanya. Sebab kata seorang Filosof “Jika mengusik keseimbangan alam, maka tunggulah gejala alam.” Semoga masyarakat Nagrak masih mau untuk menjaga dan melestarikan alam.

Kalo saya boleh usul, bagaimana jika setiap satu bulan sekali diadakan kerja bakti massal seluruh masyarakat. Misal setiap tanggal 25 selain menjadi malam pengajian, namun siangnya dipakai untuk kerja bakti massal. Saya pikir ini mudah. Sebab, masyarakat Nagrak sudah terbiasa dengan gotong royong. Bukti fisiknya seperti bangunan masjid yang sudah kokoh, asrama santri yang sudah 70% selesai dan lain-lain. Maka, tidaklah terlalu mengejutkan jika hanya satu bulan sekali kerja bakti massal dengan hasil yang luar biasa.

Budaya gotong royong ini perlu dijaga dan diberdayakan. Begitu pula dengan budaya keislamannya jangan sampai punah ditelan zaman. Sebab, kampung Nagrak dinilai oleh penduduk sekitar seringkali disebut sebagai kampung yang religious. Ini bukanlah sebuah makian atau hinaan, justru sebagai penghargaan yang diberikan warga kampung lain kepada kampung Nagrak. Makanya budaya keislaman harus dijaga, karena ini adalah asset yang berharga untuk generasi ke generasi selanjutnya.

Jika kita tidak mempersiapkan generasi selanjutnya dengan aspek keagamaan yang kuat disertai dengan aqidah yang solid, bukan tidak mungkin Agama Islam di Nagrak akan habis oleh para Missionaris yang membawa ajaran Kristen. Sebab, ini pernah terjadi di Gunung Kidul, Yogyakarta. Para Missionaris melakukan manuver-manuver yang brilian dalam mempengaruhi seseorang agar murtad. Karena itulah, saya harapkan untuk tetap menjaga nilai-nilai keislaman agar tidak habis diobok-obok oleh para relawan Kristenisasi di kemudian hari.

Well, bagian akhir. Jika kita urutkan dari atas sampai bawah, maka kesimpulannya adalah Nagrak itu sebuah kampung yang makmur. Segi pendapatannya serba berkecukupan, warganya bahagia, tidak mudah terserang penyakit yang mematikan, tingkat kematiannya kecil, letak goegrafis yang bersahabat dengan alam dan masih banyak lagi aspek positif yang telah disebutkan diatas. Nah, pada kali ini saya ingin menyebutkan beberapa aspek kekurangan dari kampung Nagrak ini.

Meskipun Nagrak terlihat sempurna, namun ternyata masih ada kecacatan yang belum bisa disembuhkan oleh obat apa pun. Yaitu:

Pertama, kurangnya budaya keilmuan. Saya melihat tidak ada sedikit pun budaya keilmuan yang dikembangkan di kampung Nagrak. Padahal, dengan potensi alam yang bagus disertai dengan pendapatan yang berkecukupan disuplai dengan mayoritas muslim, seharusnya warga kampung Nagrak mengadakan diskusi ilmiah, diskusi keagamaan dan segala macam yang berhubungan dengan ilmu. Jika ini berjalan, Nagrak tidak hanya akan dikenal sebagai sebuah kampung, namun juga sebagai lautan ilmu.   

Ini penting untuk direnungkan. Sebab, kita akan ketinggalan jika saat ini masih belum tau tentang Big Bang, kita akan dianggap sebagai peradaban terbelakang jika masih belum tau pemikiran-pemikiran para Filosof. Minimal, ada diskusi yang ringan-ringan menyangkut keagamaan yang berkaitan dengan masalah kehidupan sehari-hari. Missal: mengapa ketika hujan harus dijama’ ? apa hukum memakai isbal ? bagaimana dengan hukum memakai cadar ? Apa itu Syiah ? bagaimana pemikiran liberalisme itu ? atau kalo memungkinkan, membahas masalah Kristologi.

Kedua, tidak adanya koperasi/kerajinan usaha. Nagrak mempunyai segala macam kelebihan, namun sangat sedikit masyarakatnya yang mempunyai keterampilan. Seperti keterampilan membuat proferti, kerajinan tangan dll. Tapi menurut saya, bukan tiadanya keterampilan, melainkan tidak mengembangkan keterampilan itu. Sebab, kalo keterampilan itu diasah, bisa menjadi mercusuar ekonomi di kampung Nagrak. Disamping itu, membuka lapangan pekerjaan bagi warga Nagrak lainnya yang belum mendapatkan pekerjaan.

Selain itu, tiadanya koperasi yang berdiri disana. Padahal, koperasi bisa dijadian kendaraan ekonomi bagi warga kampung Nagrak yang paling efektif. Dengan azas Dari Rakyat, Untuk Rakyat dan Oleh Rakyat, tidak ada yang akan dirugikan. Karena semua transaksi yang terjadi untuk kemakmuran bagi seluruh anggota (warga) kampung Nagrak. Keuntungan dari koperasi bisa lebih besar daripada deposito Bank atau perdagangan saham. Jadi, yang ingin berinvestasi dalam koperasi itu (jika nanti ada), bisa menjadi solusi perekonomian semua warganya.

Ketiga,  krisis nasionalisme dan persatuan. Entah kenapa, nasionalisme dan persatuan seluruh warga kampung Nagrak kini telah hilang ketika budaya DuLer (kidul dan kaler) sekarat. Dulu ketika DuLer masih sangat popular, bukan perpecahan yang ada, melainkan rasa persatuan dan rasa nasionalisme kampunglah yang bertambah. Tapi ketika budaya DuLer meredup, kita seakan kehilangan ideology, kehilangan persatuan dan kehilangan jati diri sebagai warga Nagrak. Ini harus menjadi renungan kita bersama. Mengapa sejak DuLer tidak ada lagi, persatuan seluruh nagrak meredup ?

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tuliskan dalam artikel ini, namun karena sudah terlalu panjang, dan biasanya manusia Indonesia malas untuk membaca tulisan-tulisan yang panjang, maka saya akhiri saja. harapannya semoga tulisan ini dijadikan bahan diskusi untuk kemajuan Nagrak di kemudian hari. Tulisan ini juga membuktikan bahwa saya masih sangat peduli dengan kampung Nagrak, masih menginginkan Nagrak menjadi kampung yang religious, seluruh warganya bahagia, sentosa.

Sekian, Oiya, ada pesan dari John Lennon “Imagine there’s no Heaven, no Hell bellow us. Above us only sky.” Semuanya sama, tidak ada malaikat, tidak ada iblis. Tidak ada si ahli Surga, juga ahli neraka. Tidak ada warga istimewa, juga tidak ada sampah masyarakat. Sebab, yang menentukan kualitas seseorang itu bukan manusia, melainkan dari Tuhan! Jika semua warga Nagrak berpikir seperti, bukan tidak mungkin Nagrak menjadi kampung yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

John Lennon juga mengatakan “You may say that I’m a dreamer, I hope someday you’ll join us.” Mungkin akan ada orang yang bilang saya adalah seorang pemimpi, pengkhayal, pengkhotbah atau cuman asbun yang tong kosong nyaring bunyinya, namun saya berharap suatu saat, kalian akan bergabung dengan ide gilee ini. Wassalam…

Foto lainnya yang menggambarkan kampung Nagrak:

Kala Senja di Kampung Nagrak

Ketua Umum Kurkas (Kurang Kasih Sayang)

3 comments: